mimi item
23:59 14/05/2010 Friday

Malam ini aku berpikir. Setiap hari, terkadang bertemu orang yang sama, terkadang bertemu orang yang hanya sepintas lalu. Namun, beberapa dari mereka, entah mereka mengenal satu sama lain atau tidak, memiliki persamaan dan juga perbedaan tentunya. Begini, aku berpikir untuk mengelompokkan mereka dalam dua tipe yaitu dalam memandang cara mensyukuri hidup dalam perilaku para ciptaan ini.

Tipikal manusia pertama adalah orang yang 'nrimo', pasrah, mengalir mengikuti arus kehidupan. Perilaku mereka cenderung terpuji. Tenang. Tanpa riak. Tanpa masalah. Dalam pikiran mereka Tuhan adalah donatur tetap sepanjang akhir hayat. Mereka menunggu dan menerima saja apa yang telah telah di berikan oleh Sumber Pemberi Rahmat Yang Maha Tahu Apa Yang Mereka Perlukan. Pribadinya cenderung menyenangkan, menyenangkan hati Sang Pencipta juga sesamanya. Penyerahan diri sepenuhnya kepada Sang Pemilik Kehidupan. Kaum Penerima. PUja-puji sering mengikuti hidup kaum ini. Kata-kata ampuh yang mereka sering ucapkan adalah "Biar sajalah Tuhan yang atur" atau "Ini memang sudah suratan nasibku" atau kata-kata yang cenderung bernada lembut nan pasrah, bla.. bla...

Tipikal manusia kedua adalah 'Sang Pemberontak', tidak cukup puas atas apa yang sudah ada, melawan arus tenang yang mereka anggap menghanyutkan. Hidup bertemankan badai. Masalah menjadi sahabat sehari-hari. Selalu berusaha melakukan yang terbaik dengan apa yang telah diberikan pada mereka. Tuhan adalah Panglima tertinggi, dan mereka adalah para kopral yang harus berusaha naik pangkat dengan berusaha melakukan usaha terbaik yang mereka punya. Pribadinya cenderung berkompetensi dalam kehidupan. Terkadang menyakitkan diri sendiri, terkadang menyakitkan hati sesama, bahkan terkadang mengecewakan Sang Panglima. Kaum Pejuang. Sering di cacimaki. Di mulut mereka sering terucapkan "Kalau dia bisa, kenapa aku nggak?" atau "Aku belum sepenuhnya melakukan yang terbaik yang kubisa!" atau kata-kata bernada arogan plus menantang, bla..bla...

Tipikal manusia pertama jika bertemu dengan tipikal manusia kedua berpikir : "Nih anak tak tau diri, gak pandai bersyukur, tak pernah puas!"

Tipikal manusia kedua jika bertemu dengan tipikal manusia pertama berkata :
"Nih anak tak atau diri, gak pandai bersyukur, tak mau berusaha lebih keras"

Karena perbedaan perspektif tersebutlah, si orang pertama tidak cocok dengan si kedua. Mereka terkadang menyakiti satu sama lain. Cara mereka berbeda. Yang satu ke barat, yang satu ke timur. Tapi maukah kau lihat lebih dekat? Lihatlah, keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu mensyukuri hidup.

Pertanyaan dalam otakku sekarang adalah :
Sang Pemilik Kehidupan akan memilih cara siapa? Si tipikal pertama atau tipikal kedua?
Aku dimana? Siapa aku? Si manusia pertama atau manusia kedua? Atau bahkan bukan keduanya?

Ya,ya,ya Krisis jati diri di awal 20an memang wajar toh?

Siapapun aku, aku ini Mian Hotmida Banjarnahor. Tidak perlu puja-puji juga serapahmu namun berikan padaku saran dan kritik. Karena puja dan puji hanya untuk Tuhan saja dan manusia lain tak berhak mencacimaki aku. Aku bersyukur atas hidupku. Itu saja.
#mimiwords edit post
0 Responses