
Tidak menangis ketika aku menangis
Menghujaniku dengan kata-kata penghiburan
Sehingga ku tertawa lagi
Tidak dengan cepat melihat selumbar di mataku
Dan melupakan balok di matanya
Tidak dengan cepat berlari pergi ketika aku jatuh
Tapi dengan pasti menghampiri dan menopangku
Tidak tinggal diam ketika aku menghancurkan diriku sendiri
Tapi bertindak meski di mataku nampak menjemukan
Membantu menemukan ’Aku’ di dalam aku dan,
Bersama-sama menemukan ’Kami’ dalam kami
Bukan hanya menjadi teman
Tapi, sahabat…
benar-benar sahabat
Membagi dukanya bersamaku
Meski dia ingin menelan bahagianya sendiri
Tidak pesimis tentang apa yang kami rencanakan
Sehingga membuat aku tidak layak untuk diandalkan
Mampu berkata "iya" pada saat yang tepat
Dan berani berkata "tidak" jika memang diperlukan
Tidak berteriak untuk mengatakan sesuatu
Tapi berbisik dengan lembut hingga aku mengerti
Merencanakan bersama cita-cita kami
Dan tidak tertawa untuk setiap kebodohanku
Tidak mengatakan bahwa aku tidak mampu
Memberiku suatu kepercayaan
Membuatku berkata
”Ya, aku pasti bisa”
Tidak berjalan di depanku
Tapi berjalan di sampingku dengan langkah seiring
Akhirnya…
Sahabat bagiku…
Menaruh kasih setiap waktu
Dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran
Sudahkah aku
menjadi sahabat bagi dia?
Entahlah ...
