Siapa lagi sahabat baik si Datang Bulan selain PMS ? Yep! Jerawat. Bulan ini super sekali, ritme kerja dan tekanan tingkat tinggi yang bikin stress, bonus datang bulan dan jerawat pula. Doh! Si Jerawat ini emang jodoh dan pas banget di saat stress dan lelah. Padahal biasanya aku ga jerawatan gede. Ini sampe 4 buah nongol. Hhaa
Terima kasih buat kaka Cei, sejak kerja di Martha Tilaar makin kece aja deh karena suka kasi racun produk-produk Martha Tilaar. Enak banget sih Kaka, kerja di Martha Tilaar.
Salah satunya ini, Intensive Acne Care. Belinya di toko kosmetik di kota Langka. Bukan dari Kak Cei. Obat Jerawat yang ampuh. Harganya ga sampe 20 ribu rupiah. Cara pakainya adalah setelah botol kecil dikocok-kocok lalu dioleskan pake cotton bud di jerawat bandel. Diamkan sesaat, agak pedih sedikit (aja) karena mengandung belerang dan pegagan. Tarik napas panjang-panjang, hembuskan dan nikmati aroma khas jamu. Hari ini hari kedua datang bulan, hari kedua pemakaian produk ini dan ini jerawat udah kempes, walau masih ada satu yang bandel.
Dibagian belakang kotak, tertulis "untuk hasil maksimal gunakan Sariayu Masker Jerawat" . Mmmm. Liat paper bag Martha Tillar di samping lemari, ubek-ubek isinya. Taraaaaa.... Dulu Kak Cei kan ada kirimin masker-masker sachet. HOHOHO. Aku hampir lupa. Masker-masker nya belum aku pakai karena masker Biokos (ini produk Martha Tilaar juga) masih belum habis. Btw, masker Biokos untuk 20th (tube hijau) bagus banget. Dibawa bobo ga pecah. Kenceng. Kapan-kapan aku review deh.
Malam ini setelah bersihin muka, oleskan Intensive Acne Care lalu oles Masker Jerawat. Enak.
Moga besok pagi jerawat udah kempes maksimal. hehe
Hari ini, hari Senin, Minggu Keempat di Bulan Kesembilan, Tahun Dua Ribu Empat Belas setelah Masehi.
Senin, 22 September 2014.
Aku datang bulan. Hari pertama di bulan ini. Tandanya aku belum akan punya anak untuk sembilan bulan kedepan. Ya iya, Produsen Benih-nya aja belum nemu. Btw, kenapa Menstruasi diterjemahin menjadi Datang Bulan? Apa hubungannya Bulan yang indah itu dengan sel telur yang lebur menjadi darah di tiap bulan? Apakah ketika jarak Bulan mendekat dengan Bumi berwarna merah seperti darah? Kalo cowo siklus bulanan mimpi basah, ya karena mereka mimpi lalu basah. Kalo Datang Bulan? Ah. Pusing. Random. Skip.
Seperti biasa, aku bangun pagi dengan ritual guling ke kanan, guling ke kiri kadang nungging kadang ngga. Yes, kadang. Aku khawatir bokongku tepos alias menipis karena kebanyakan duduk dan tidur, jadi harus diberi ruang udara walau sesaat. HAHA. Setelah bangun, kuterus mandi, jepit rambut pake hair-cap daaan merasa ga enak! Ya, ga enak! Rambut hitam yang tebal jadi tipis. Hari Sabtu, aku ke Salon, konon kata Maya-temenku di kota ini, Salon itu adalah salon paling baguuuuuuuuuuuussssss di kota ini. Pft, Aku merasa menyesal, rambutku salah potong. Agak pendek dan tipis. Habis mandi, sisiran, rambut rapi, hati campur aduk.
Pergi ke kantor, tidak lupa membeli bubur bandung langganan. Kalo kerja tanpa sarapan, bisa-bisa otakku ga bisa mikir. Otak dan lambung kompak banget soalnya. Yang jual udah kayak mak angkat aku nih. Tinggal duduk, dikasi bubur bandung tanpa telor rebus dan teh manis hangat dengan gula sedikit saja. Apes, aku tumpahin cabe hampir satu sendok makan di atas bubur! Udah disingkirkan tuh cabe yang tumpah, tapi tetep pedes. Mules dah hampir dua jam. Tauk deh mules karena datang bulan apa karena cabe. Oh. Mak.
Sampe kantor. Dapet text dari rekanku, Nina. Dia gak masuk kerja. Ijin demi anaknya. Pengasuhnya ga masuk. Suaminya kerja. Adik kecil yang lucu itu ga ada yang temenin. Sedihnya kamu dek. Ya, sepi deh kantor, ga apa-apa deh, demi adik kecil. Tante Mimi yang imut doakan mamamu dan kamu sehat selalu ya adik kecil. Amin
Pegang senjata alias Kompi Similikiti Weleh-weleh dan kibor ngebor dengan slow motion. Serasa banyak kuman bertebaran, berhati-hati. Maafkan sikap sok-perfeksionis ku ya Kompi. Seminggu menjelang akhir bulan. Bulan September. Bagi kalian mungkin adalah bulan biasa, namun bagi kalangan Perbankan atau institusi/lembaga/korporasi yang terdaftar di Bursa Efek, ini adalah salah satu bulan keramat. Tentu saja bulan keramat itu bukan hanya bulan September, dalam satu tahun ada empat kali bulan keramat. Maret, Juni, September, Desember. Triwulanan, Semesteran, whatever. Itu artinya, target yang ditetapkan harus tercapai. Target? Yoi. Tujuan yang harus diraih. Rapor perusahaan akan diekspos di media resmi. Cerminan penilaian, bonus tahunan atau bahkan kenaikan gaji untuk periode mendatang. Sigh.
Harusnya bulan ini adalah bulan yang agak gembira. Yoi men. Aku kerjain Nota Analisa Kampret eh Kredit, kebut untuk dua perusahaan tujuan take over dan pembelian kapal. Switch otak kiri kanan depan belakang (ada otak depan dan otak belakang ga? hha). Yes, Thanks bigboss. Diputus dengan tenggat waktu yang lumayan longgar dari akhir bulan (Diputus-ini istilah jika pengajuan nota analisa disetujui). Jadi, kalo dalam dunia percintaan kata 'diputus' bikin hati kamu-kamu pada pedih, sebaliknya kalo dalam dunia relationshit manager, kata 'diputus' itu bikin lo senyum. Senyum doang sih. Ga usah pake seneng. Senengnya kalo tuh uang kredit, dibalikin tepat waktu, tanpa nunggak dan perekonomian di daerah lo kasi kredit berkembang. Sekali lagi, ga usah pake seneng kalo kredit diputus! Sebaiknya senyum aja plus doa di tiap tanda-tangan yang lo tuliskan. Ingat nasehat Mami Mimi ini ya! Awas kalo macet. Amit-amit, bisa berabe pokoknya!
Dapet text dari salah seorang Birokrat lumayan songong bermarga Pasar Seribu. Urusan pencairan dana simpanan. Shit. Yes. Shit banget dah. Urusan ini udah lama banget, dimulai dari pendekatan di tahun 2013. Pendekatan dan negosiasi yang panjang. Yeah. Bagi aku pribadi sih ga sia-sia, men. Negosiasi skill ku meningkat lumayan pesat, yes i do. Urusan ini aku dikit banget dibantu ama Mr. Thankfull, dia mah selalu bilang kalo di urusan Pak Bli, target nya Pak Bli. Bahkan itung-itungan suvenir yang aku pake untuk dapetin dana Birokrat.
Dari minggu kemaren, aku nego agar ga cair. Okesip. Rayuan pulau kelapa berhasil. Namun hari ini rayuan ga mempan. Harus cairin deposito 20 milyar rupiah, ke B*I. Uh, nyebelin. Birokrat oportunis. Udah dikasi produk Apple dua buah, ga tepatin janji. Cuma dua bulan doang. Balik modal aja kagak. Alasannya buat bayar proyek dan gaji. Bohong! Jelas-jelas aku dan Andrew-temenku anak kantor cabang, papasan dengan anak Bank lain yang datang kunjungan sebelum kami. Oportunis, mau hadiah sana-sini. Pindah sana-sini. Males banget dah ama Bapak Pasar Seribu.
Aku basa-basi kunjungan ama Kepala Badan, sebut saja Bapak Four, jelasin kalo dana yang disimpan di bank, kemudian diputer untuk masyarakat kota dia juga, dalam bentuk kredit baik kredit untuk tujuan konsumsi atau produktif. Semua itu atas dasar spirit membangun negeri. Walau aku tau, penjelasan dan obrolan itu ga bakal berpengaruh dengan pemindahan dana, yang penting aku sampaikan tujuan korporasi dalam bisnis perbankan.
Makan siang aku juga agak kesel ama Alam. Banyak tanya ini itu. Aku sebenernya malas ngomong panjang lebar. Si Rendy juga jutekin aku gara-gara aku minta kartu e-money disaat dia sibuk. Ah, tapi aku biarin aja deh mereka begitu. Salah satu temen-temenku yang lucu. Cuma aku aja yang lemes ga semangat hari ini. Pengen cerita lucu-lucuan ama Tian, dia sibuk banget kayaknya hari ini. Hhaa.
Hari ini agak menyebalkan. Hari pertama datang bulan. Bad hair day. Kredit akan on book dua klien tapi kehilangan funding 20 milyar, B*I hit me back, plus birokrat oportunis. Negosiasiku cuma bertahan seminggu. Bosku duduk manis doang, aku pun malas basa basi lapor. Palingan dikasi wejangan nada negatif (as usuall) dan disuruh lapor ke Pak Bli aja. Feel bad, seminggu lagi EOM. Ga enak sama Bigboss nun jauh di kota seberang, ga enak sama Kacab-yang juga temenku. Dana mereka turun deh. Negosiatornya ga lihai. Ah, aku yang salah.
Sore menjelang, pulang jam setengah 5 teng, Go !
Mau bobok dulu tapi ga bisa bobok. Lalu lampiaskan sejarah hari ini di blog.
I'm not good today, just trying to smile along day at office hahaha
Tujuan nulis ini biar ga lupa pelajaran hidup hari ini. tar kapan-kapan aku baca ini palingan senyum-senyum sendiri.
Datang bulan paling lama seminggu, udah biasa.
Rambut salah potong, kata Mba Gia tar juga tumbuh lagi, kata Galuh dirapiin lagi aja.
Cabe yang tumpah di bubur, besok-besok mesti hati-hati.
Dana pindah, ya mari tingkatkan kualitas negosiasi dan banyak-banyak temenan ama birokrat, kasi pengaruh baik.
It is just bad day, not bad life, right? Yes and amen.
Besok kita mulai lagi, dari nol ya. Cheerss
Good night.
begini...
ceritanya dimulai dari sini, ...
...
...
Sudah berapa lama saya tidak menulis? Rasa-rasanya saya sudah lupa bagaimana caranya menulis. Lupa bagaimana merangkai huruf-huruf menjadi kata yang tepat, dan menyulamnya menjadi kalimat demi kalimat sebelum saya akhiri dengan sebuah tanda baca, titik. Saya kembali membaca ulang tulisan-tulisan yang pernah saya tulis di Facebook, dan memindahkannya ke blog. Dulu saya lebih senang menulis di Facebook, hitung-hitung sambil chit-chat bersama temen.
Maaf, saya terlalu sibuk. Sibuk mengurusi kesibukan itu sendiri. Sok penting! HAHA!
Kawan, akhir-akhir ini hidup membuat saya gila. Kenapa seolah-olah saya sedang berdiri dan menjadi pemain sinetron-sinetron Indonesia yang kisahnya tidak berakhir bahkan ketika enam puluh episode pun sudah lewat?
Sebentar saya pergi. Lima menit lagi saya kembali, tunggu saja di depan layar ini. Ok?
tunggu aja, saya mau log out.
sampai jumpa lagi.
Sebentar lagi bulan Oktober! Sebentar lagi ijazah yang ditahan korporasi akan dikembalikan.
Jadi ingat masa-masa pendidikan deh. Dulu, tanggal 9 Mei, kami berangkat ke Bandara Soekarno Hatta untuk terbang ke tujuan sesuai nama kota yang tertulis di Surat Keputusan Direktur. Dulu aku pernah tulis hal ini,
Posting asli ditulis di facebook, May 9, 2011 at 2:49am
"Fame is a vapor, popularity is an accident, riches take wings, those who cheer today may curse tomorrow and only one thing endures - character." -Harry S. Truman
Jadi disinilah akhirnya,
dari apa yang dimulai di penghujung 2010, selama beberapa bulan, ruang sumpek kota ini sudah menjadi tempat berteduh saya.
Ketika saya berumah disini,
banyak yang sudah berpautan secara langsung maupun sekedar numpang lewat,
beberapa sudah bertegur sapa di sepanjang jalan saya,
beberapa masih bertahan sebagai si anonimus.
Terimakasih ya, karena membuat saya merasa begitu dihargai dan dikenal secara personal.
Beberapa dari teman seperjalanan yang saya kenal, lumayan dekat belakangan secara personal. Mereka sudah menjelma seperti apa yang dikatakan sejiwa.
Kalian dirindukan.
Dan akan selalu dirindukan.
Terimakasih untuk memberi warna-warni, merangkai sejarah dalam hidup saya,
1. Ratih, yang punya cubitan maut. *sakitnya tetep terasa sampe sekarang
2. Fani, yang sabar sekali menghadapi tingkah jutek ku
3. Cindy, arek suroboyo, sang petualang penggila bakso
4. Putu, yang selalu ceria dengan logat khas jogya nya
5. Irma, sang batosai cuek abis nan keren
6. Ninda, kritik pedas straight to the pointmu akan kurindu
7. Dhani, yang kalem, anggun dan sabar. Wanita sejati.
8. Rizky, temen berantem yang terlihat antusias dan ambisius walau kadang nyebelin
9. Titus, lelaki paling sabar yang tak pernah marah
10. Adi, si om dengan gelengan kepala yang khas
11. And the last but not the least, Nando, good guy from previous batch. Lelaki kalem dan sabar menghadapi saya yg barbar ini.
12. Dan mereka yang ikut serta namun luput dari perhatian saya yang tidak seberapa kemampuannya ini.
Terimakasih ya, kebersamaan selama ini banyak sekali artinya untuk saya,
Senang sekali mengetahui bahwa orang-orang asing ternyata bisa melengkapi karakter masing-masing dan perlahan-lahan menjadi sahabat.
Dengan keinginan dan keingintahuan yang sama, kita sudah melewati hari-hari penuh perjuangan,
Ayo kita terus lanjutkan dan sampai di ujung yg kita bisa. Sampai selesai.
Jadi,
disinilah akhirnya,
dimana saya harus berhenti dan selesai dari ruang sumpek ini.
Terimakasih untuk anda sekalian, yang telah membimbing, mengajari, mendukung, bahkan sudah menyempatkan diri untuk mengenal saya secara personal,
Thank you, thank you, thank you..
and i'll be seeing you around via technology.
Mengakhiri apa yang biasanya secara rutin saya lakukan, bertemu kalian.
bohong besar kalau saya bilang saya tidak merasa kehilangan.
Saya memang akan merasa kehilangan, pasti.
Tapi begitulah adanya, sesuatu selalu diciptakan berpasang2an.
Ada pagi, ada malam
Ada suka, ada duka
Ada pertemuan, ada perpisahan
Will you remember me the way I remember you?. Will you be the same the last time I saw you, you are the sweetest. Every moment with you is the sweetest one. ~ sing a song: Remember My Sweet Moments
Sayonara !
Will always be faithfully around,
Mian Hotmida Banjarnahor.
setidaknya, demikian untuk saya,
akan terlalu susah untuk mendapat kata percaya dari saya.
Pelajaran hidup, mengajarkan saya untuk tidak mempercayai siapapun.
Saya serius. Siapapun.
Jadi, bersabarlah,buktikan saja, jangan palsu, agar saya yakin bahwa saya bisa mempercayai mu Adam. Agar saya yakin bahwa saya tidak akan bertemu dengan pengkhianatan lagi. Gampang kan?
Kalo kamu bukan orang yang gampangan, seharusnya pembuktian itu gampang kan?
:p
(•ˆ⌣ˆ•)
Posting asli ditulis di facebook, April 27, 2011 at 10:44pm
Everybody have poker face! Kadarnya aja yang beda. Ada yang dekat dengan garis normal. Ada yang jauh dari garis normal.
Question :
1. Bagaimana cara mengendalikan air mata?
2. Apakah ada korelasi antara airmata dan hati? Jika ada jelaskan.
3. Bukankah airmata itu fungsinya untuk membersihkan bola mata, dan hati itu fungsinya untuk detoksifikasi? Trus kenapa air mata turun padahal mataku ga kotor?
Pertanyaan sotoy? Tauk ah. Tadi kak Cei bbm, bilang 'cinta itu 1 Kor 13'. Haha. Gw abis baca tuh kitab. Bener kak, bener. I'm on my track again.
Besok kasi senyum tulus ke semua orang, bukan senyum si poker face. Gw janji. Janji harus ditepati.
Good nite, Thank you for everything universe!
Posting asli ditulis di facebook, May 2, 2011 at 10:06pm
Shut up hey mindy!
Akhir2 ini aku sering mengomel. Pantaskah?
(っ ̄O ̄)っ~♪ Apakah ku sungguh mengasihiMu, Yesus ?
*take a deep breath and let's praying
(‾ʃƪ‾) : Tuhan, tolong berikan aku kesabaran dan hati yang lembut, ya Tuhan ya?
am I ready ? Let we see.
Belajar bersyukur meski kekurangan,
Belajar memahami meski tak sehati,
Belajar ikhlas meski tak rela,
Belajar bersabar meski tak kuat,
Belajar intropeksi meski tak salah,
Maka dari itu, belajarlah untuk tetap di jalan yang benar.
Belajar lebih baik untuk jadi yang terbaik.
#balada cungpret galau yang lagi belajar
Target ku yg harus segera diselesaikan.
Tiba dikantor ketika ruangan masih sepi. Pulang ketika hampir 80% penghuni sudah tak ada.
Kau tau kenapa?
Karena target yang ditetapkan itu cerminan proyeksi kemampuan kita oleh atasan.
Karena angka yang diproyeksikan itu mencerminkan bonus di akhir periode.
Pilihan yang ada cuma 2.
Bukan kembali, bukan pula berhenti.
Ya, memutar atau tetap dijalan yg sama.
Karena tidak ada pilihan jalan kembali.
Tidak pula berhenti.
Setiap usaha dan kerja keras yang diupayakan tidak akan sia2.
Ini bukan lagi praktek teori dikelas yang bisa dikoreksi ulang.
Bukan pula simulasi meeting yang jika salah bisa ketawa ketiwi setelahnya.
Ini nyata.
Ada dampak untuk tiap keputusan.
Pertanyaannya sekarang adalah :
"Apa yang harus kutanyakan pada
diriku?"
You can never quit. Winners never quit, and quitters never win. - Ted Turner
*dagdigdug jantungku berdebar
(‾ʃƪ‾)
sejauh mana peran etnis, budaya dan agama dalam kehidupan percintaan?
etnis -
etnis mengacu pada suku. contohlah si Bonar, lelaki ganteng beretnis batak mencintai si Meimei, wanita tionghoa yang lembut.
budaya -
budaya mengacu pada kebiasaan dari komunitas. contohlah si Bonar memiliki budaya batak yang ribet mencintai si Meimei yang memiliki budaya tionghoa yang juga kompleks.
agama -
agama mengacu pada keyakinan seorang individu. contohlah si Bonar pengikut Yesus mencintai si Meimei penganut ajaran Budha.
Akan ada begitu celah gesekan. bohong kalo ada yang bilang cinta itu sederhana. itu hanya cinta monyet yang ada di sinetron.
perbedaan etnis dan budaya masih bisa ditolerir dalam batas normal, namun perbedaan keyakinan? bisakah Tuhan mu dan Tuhan ku bersatu? bisakah cara mu menyembahNya bisa diterima oleh pola penyembahan ku?
katakan lah mereka tetap bersama. menikah di negara yang mengizinkan pernikahan beda keyakinan. kemudian mereka memiliki anak. cakep dan pintar, persis seperti ibu dan ayahnya. lalu, si anak bertanya, saya harus ikut ajaran siapa? Tuhan saya siapa? Siapa Tuhan itu?
bingung kan lo.
Kata temen saya sih, "gampang mi, sekarang zaman udah canggih, ga lagi sulit mendidik anak. Dia (anak itu) yang harusnya memilih keyakinannya"
benarkah segampang itu?
benarkah?
menurut saya tidak segampang itu.
keyakinan akan Tuhan, menurut saya adalah pondasi dalam setiap aspek kehidupan. Ia menopang pilar-pilar kehidupan. Pilar kebahagiaan, pilar pengetahuan, atau bahkan pilar karier. Pondasi yang tidak kokoh akan meruntuhkan semuanya.
benarkah segampang itu, teman?
atau pemikiran saya yang terlalu rumit?
entahlah, saya hanya bertanya saja. karena dengan mengajukan pertanyaan saya sering menemukan pengetahuan yang tersembunyi.
Posting asli ditulis di facebook, August 22, 2011 at 2:23pm
Here, the amazing words from that movie.
Soothsayer: Your story may not have such a happy beginning, but that doesn't make you who you are. it is the rest of your story, who you choose to be... So, who are you, Panda?
...
Shen: How did you find peace? I took away your parents, everything, I scarred you for life...
Po: See that's the thing, Shen, scars heal.
Shen: No they don't... wounds heal.
Po: Oh, yeah... what do scars do? They fade, I guess...
Shen: I don't care what scars do...!
Po: You should, Shen. You got to let go of the stuff from past - because it just doesn't matter! The only thing that matters is what you choose to be now.
...
Sekian (•ˆ⌣ˆ•)
Posting asli ditulis di facebook, August 17, 2011 at 11:34pm
9 Summers 10 Autums ; Dari Kota Apel ke The Big Apple. Sebuah buku dari kisah nyata kehidupan Iwan Setyawan. Seorang anak sopir angkot dari Kota Batu yang menjadi direktur di New York City.
Iwan, Ia hanyalah anak kecil dari Kota Batu yang bercita-cita memiliki kamar sendiri di rumahnya yang sempit. Cita-cita pertamanya sesederhana pikirannya saat itu, agar ketika malam menyelimuti hari terhindar dari nyamuk dan tikus yang kerap mengintip tidurnya. Anak ketiga dari lima bersaudara. Terjepit antara kebutuhan dua kakak dan dua adiknya. Melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi dengan keringat dan airmata orang tua serta pinjaman sana sini. Sampai kemudian ia diterima berkerja pertama kali di kantor yang berkedudukan di Jalan Sudirman, Jakarta. Lalu beberapa tahun kemudian menjadi Direktur di New York.
Aku hanya akan menuliskan kembali sepenggal ceritanya, yang menyentuh hatiku, motivasi yang menjadi energi dikehidupan Iwan.
Begini tertulis di bagian akhir buku itu, awal dari api yang membakar perjalanan kehidupannya . . .
...
Dunia akan menjadi tempat bermain yang berbeda ketika kita dewasa dan kenangan masa kecil seperti inilah yang bisa memberikan kesejukan kelak, renungku disana, diantara tawa lepas mereka. Beberapa orangtua memanggil anaknya, mengusap keringat mereka, memberikan minum, snack atau pelukan.
aku tak bisa memilih masa kecilku.
masa kecilku mungkin tak seindah dan selepas mereka, api kehangatan di bawah rumah kecilku telah menyelamatkanku. Jalan hidupku mungkin akan berbeda, i would have been so lost, tanpa kesederhanaan Ibu, tanpa perjuangan keras Bapak, tanpa cinta yang hangat dari saudara-saudaraku. Memori masa kecil membuat aku bijak dalam mengenal dirikuu sekarang.
Dan lewat tangan kecilmu, lewat tatapan mata bulatnya, aku berani menjenguk masa lalu dan memahaminya. Aku hampir menceritakan semuanya kepadamu. Kali ini, mungkin untuk terakhir kalinya, aku ingin membagikan satu kenangan yang menjadi pagar hidupku, sebuah kenangan yang ke dalamnya telah membuat ruang sendiri di hatiku. This is a little story about my mom.
Malam itu, sehabis ayahku pulang kerja, pulang dari angkotnya, something happened. Ia capek dan mungkin putus asa karena tidak mendapatkan uang cukup hari itu. mungkin juga karena anaknya yang lain, angkot tuanya, harus masuk bengkel lagi setengah hari. Sementara kebutuhan minggu itu sudah menumpuk. Kami harus makan, bayar listrik dan uang sekolah. Bapak melemparkan emosinya ke Ibu. Ini bukanlah pertama kalinya mereka beradu pendapat, tapi malam itu things were so bad. Aku dikamar bersama saudara-saudaraku. Menutup pintunya rapat-rapat, diam. Tegang. Setelah seperempat jam kemudian ketika tak kudengar adu mulut lagi, aku keluar kamar. Kudapati Ibu duduk di lantai, di pojok dapur, tersedu. Ibu memeluk ku erat. Dia kemudian mengajakku berjalan keluar rumah. Kami diam sepanjang jalan. Aku tak tahu harus berbuat apa.
Melihat air mata Ibu jatuh saat itu aku berkata pada diriku. Ini tak akan terjadi lagi. Aku ingin membahagiakan Ibu, Ibu yang paling bahagia. Aku mau melakukan sesuatu buat keluargaku. Aku sayang mereka.(I told my self, i will not let this happen again. I want to make her a happy mother; a very happy mother. I want to do something for my family. I love them so much.)
Dari sinilah aku mulai melihat hidup ini tak hijau lagi.
Kenangan ini, meskipun perih, telah menyelamatkan hidupku
Aku tak bisa memilih masa kecilku
"you must know that there's nothing higher, or stronger, or sounder, or more useful afterwards in life, than some good memory, especially a memory from childhood, from parental home. You hear a lot said about you education, yet some such beautiful, sacred memory, preserved from childhood, is perhaps THE BEST EDUCATION. if a man stores up many such memories to take into life, then he is saved for his whole life. And even if only one good memory remains with us in our hearts, that alone may serve some day for our salvation. ah children, ah dear friend. do not afraid of life! How good life is when you do something good and rightful" - Dostoevsky's The Brother Karamazov
...
Ah, aku jadi ingat saat dimana aku melihat bahwa kehidupan tidak lagi hijau, dimasa aku masih memakai seragam putih abu-abu. ketika aku harus memilih untuk mencintai pelajaran sosial lebih daripada pelajaran eksakta. ah tapi biar saja itu menjadi ceritaku.
temans baca deh buku ini. buat pelajar, belajar yang rajin. buat yang kerja, lakukan yang terbaik. Demikian.
hari ini aku duduk diam, lama dihadapan sebuah buku yang ditulis oleh Ellen May, seorang ibu rumah tangga dan tentunya ia adalah wanita cerdas yang menghasilkan uang untuk keluarganya melalui sistem pasar modal.
Adalah hal termiris buat saya menemukan perempuan terlalu lembek atau perempuan yang meledak-ledak. Perempuan yang emosinya tidak wajar. Perempuan yang mendayu-dayu lemah saat sedang memanipulasi situasi. Drama. Ya, mungkin berbeda dengan laki-laki, biasanya suka dengan yang menye-menye, lemah gemulai atau yang meledak-ledak, asal cantik, manis, hehe.
Betulkan perempuan itu mahluk lemah? Tidak, kalau perempuan mau memberdayakan dirinya. Maka demi menghargai kehidupan ini dimana Tuhan telah memberi anugerah kepada manusia, baik laki-laki maupun perempuan dengan keragaman talenta sesuai situasi masing-masing, maka wahai Perempuan, berdayalah...! Berdaya tidak melulu soal dominan, tidak berarti bisa berdiri sendiri, ya masih butuh lelaki juga.
Kenapa...? Kalau kita berdaya maka kita tidak akan terus-terusan jadi objek laki-laki. Kalau kita berdaya, maka kit akan menjadi berkat bagi sekeliling kita. Paling tidak, kita akan merasakan indahnya situasi "Berdaya" itu. Jika perempuan memberdayakan dirinya (berdaya dengan konotasi positif, mengusahakan dirinya dan memberi nilai tambah bagi pribadi), maka tidak akan ada alasan perempuan untuk mengiba-iba pada laki-laki hingga harus menjadi simpanan, selingkuhan atau cem-ceman.
Materi itu perlu. Uang itu perlu, ya cari dong. Bahkan jika kita memiliki pasangan mapanpun, tidak ada salahnya kita memberdayakan diri kita dengan memiliki usaha sendiri. Itu dari segi materi. Dari performance, sikap dan penampilan fisik, tetap saja saya suka perempuan yang berdaya. Perempuan pintar, sederhana yang sabar tapi lugas. Jika ada percaya diri, cerdas emosional dan spiritual, tidak menya-menye, tidak emosional, anda berdaya.
Begitulah. Memang paling miris bertemu perempuan yang tidak menggunakan akalnya dengan maksimal. Mari sinkronkan otak dan hati. Jangan cuma untuk hal-hal tidak substantif, atau sibuk meledakkan emosi kesana kemari. Sibuk ngurusin lelaki orang. Sibuk membuat skenario drama. Sayang sekali bukan.
Tentu saja hanya pendapat pribadi berdasarkan pengalaman pribadi. Sekali lagi, perempuan, berdayalah.
Jadi, jika suatu saat lelaki mu bertanya :
" kamu pilih aku atau pekerjaanmu? "
aku akan jawab : keduanya.
karena suatu saat, ada waktunya, perempuan tak lagi berdaya.
jika masih ada waktu dan kesempatan, cobalah yang terbaik sekuat tenaga. berdaya bukanlah dosa.
Posting asli ditulis di facebook, October 20, 2013 at 8:13pm
Aku punya senior yang nyebelin, namanya Andreas Setiadimulya, tapi sekarang dia udah baik samaku. Aku bersyukur pernah kenal dan pernah jadi kolega, sekarang dia udah dipromosiin jadi pimpinan.
Untuk hal itu, akan kuceritakan dilain kesempatan.
Tulisan ini pernah ditulis di facebook, October 31, 2011 at 10:37pm
ceritakanlah padaku,
tentang warna pelangi
tentang langkah yang belum aku lewati,
tentang padi yang belum disemai,
mungkin tentang pucuk dahlia yang belum bersemi...
karena kamu sudah melewati semua,
karena kamu lebih mengerti,
daripada yang kini aku pahami.
ceritakanlah padaku,
tentang langit senja memerah,
tentang lima menit sebelum purnama,
tentang pekik guruh yang menak utkan,
tentang detak suara
dibalik cangkang telur
yang akan menetas pada waktunya
karena kita begitu berbeda
kita yang seakan lain dunia,
tapi hidupmu membuatku tertegun
kisah yang tekrkumpul dari patahan-patahan cerita
yang kurangkai dari apa yang ditemukan
dan apa yang kamu uraikan
mainkanlah lagu baru untukku
untuk kali ini,
tanpa instrumen apapun,
tanpa genderang, tanpa gitar
hanya kamu dan ceritamu
karena tanpa sadar kamu membantuku
untuk sekejap
kamu mengalihkanku dari poranda
yang ingin segera mungkin aku lewati
maka duduklah disini dan bercerita
tentang padang rumput mencumbu angkasa
atau desau ombak
yang menyapa bingkai jendelamu tiap subuh
tentang apapun juga...
duduklah seperti teman lama
dan berceritalah seperti ahli filsafat
seperti guruji yang bijaksana
seperti selama ini aku memandangmu
seperti selama ini aku menganggapmu...
tanpa rasa berlebih,
teman,
saudara yang aku pilih.
berceritalah...
berikan aku sedikit ilmu...
Bergerak tanpa memandang adalah naif, kecuali kau buta. Memandang hanya dengan bola mata, juga naif. Kadangkala, memandangpun harus dengan mata hati. Memandang (yang benar) harus dengan ilmu. Sedang ilmu, tak melulu bisa didapat di bangku sekolah. Ilmu bisa ditimba dari buku. Ilmu bisa dipelajari dari lingkungan, juga alam ini. Bacalah. Ambilah hikmah segala kejadian.
definisi naif tidak mutlak.
Hidup itu relatif, tidak ada yang secara konstan benar atau konstan salah,bahkan tidak ada yang secara konstan berjalan pasti, semuanya relatif, dan serba tidak pasti. Bahkan waktu-pun, secara teoritis dibuktikan oleh Einstein berjalan relatif,gerak gravitasinya memang konstan, kecepatan cahanya memang konstan,tapi manusia, selalu menjadikan semuanya lebih rumit, lebih kompleks, lebih susah dimengerti.
Biasanya saya akan mempermudah semuanya, mempersingkat,menghindari birokrasi dan pencampur-adukan kepentingan diluar konteks yang berlebihan.Singkatnya, menyederhanakan, sampai kepada titik yang paling sederhana. Cara itu, berguna untuk pekerjaan, kurang baik untuk relationship. Tidak pernah berhasil.
Saya yang berpikir sederhana, segampang logika kerbau makan rumput,dan juga terkadaang seperti rata-rata perempuan yang berpikir secara analitis konklutif historikal kognitif ....singkatnya, rumit. Itu mungkin sebabnya saya selalu susah mengerti jalan pikiran kalian para lelaki .Hal kecil jadi besar, semoga hal besar masih jadi hal besar,mudah-mudahan jangan sampai hal besar jadi hal yang luar biasa besar sampai tak kasat mata lagi malah.
Point penting yang ingin saya sampaikan disini adalah,apa yang selalu ingin saya jabarkan kepada kamu,bisa jadi saya rangkai dalam berbagai jenis tipe kalimat yang disusun dalam puluhan post,dan puluhan ribu text messages, dan ratusan jam komunikasi verbal,tapi itu semua masih belum bisa melatih saya dalam menjadi lancar bicara,menjadi sedikit lebih manis, dan mengurangi sound efek batak yang berlebih ketika hendak mengatakan: aku sayang kamu *garuk-garuk kepala.Kok bisa ya?
Jadi beginilah caraku. sedikit kaku dan perlu waktu untuk mencair. aku bukan batu.
oya, malam ini aku menunggu bibi pijet datang.
dia berjanji datang jam 9 malam. penantian masih berlangsung 60 menit lagi
semoga lelaki yang akan hidup denganku nantinya, bisa memijat. hha
Posting asli ditulis di facebook, November 8, 2013 at 7:24pm
ga ada yang lebih memedihkan kecuali kecewanya orang setia
ga ada yang lebih mengerikan daripada murkanya orang yang suka ketawa
ga ada yang lebih dingin daripada orang cengeng yang ga bisa nangis lagi
ga ada yang lebih kosong daripada ...
daripada ...
...
Mimpiku belum kesitu sampai hari ini, mungkin nanti malam aku bermimpi seperti ini. Ada mimpi yang ingin kuwujudkan sebelum aku menikah.
Ada satu mimpi yang hampir nyata.
Kurajut seiring nafas ditiap hari.
Aku terbangun. Sadar dan shock.
Mimpi itu seakan nyata. Hampir nyata.
Terbangun dengan napas tersengal.
Capek. Istirahat dulu.
![]() |
| Tahun 2010, bersamaan dengan rekrutment Bank Mandiri, aku pilih Bank Mandiri yang udah offering letter |
![]() |
| Tahun 2013, kesempatan datang kembali, aku mengikuti sampai test Kesehatan dan Psikiatri. Selangkah lagi. It felt good, so good. |
![]() |
| Jesus! i failed for medic. i am so sad. Griefieng day! |
![]() |
| Janji Tuhan, Sang Penghibur |
![]() | ||
| huwaaaaaaa. Gw ga lulussss darling. Hiksssssss. Hiksssssssss. ga jadi sekolah lagi. hiksssss. hiksss |
Posting asli ditulis di facebook, November 29, 2013 at 2:36pm
Saya bertumbuh, dituntut untuk menjadi orang yang tangguh, secara mental. Jarang mengeluh, apapun yang terjadi harus kuat, menangis hanya boleh didepan keluarga inti, menangis sendiri. Dimatikan ke-sensitifitas-nya, ditempa untuk jadi batu. Mempercayai, bahwa, desire is the fuel of life. Memahami bahwa walk with your passion.
Dengan awalan yang demikianlah saya mulai menjalani dunia kerja sampai sekarang, dengan level keluhan yang saya tekan seminim mungkin, sepositif yang saya bisa, membakar energi dan semangat yang penuh, seperti saya yang telah memukul rata semuanya menjadi ringkas dalam kata: lumayan.
Tidak lelah, tidak jengah, tidak pernah dididik untuk jadi perempuan lembek yang rela kalah tanpa usaha. Berjuang untuk mendapatkan apa yang diingini. Sedemikian parahnya, sampai saya benar-benar lupa caranya beristirahat. Lupa rasanya jadi apa yang dikatakan anggota saya, sebagai 'manusia normal '. Saya menuntut diri saya sendiri, menetapkan standar saya sendiri, dan mengeksploitasi saya sendiri, secara maksimal, untuk mencapainya. Mimpi yang saya bangun, saya jadikan pembungkam yang mujarab.
Slogan murahan yang tertempel di kaca belakang angkutan umum, yang dulu sekali, sering saya lihat, dan berkali-kali saya jadikan lelucon setelah saya dewasa,: demi kau dan si buah hati, rupanya meresap kuat ke dalam saya, secara tidak sadar.
Karena ketika saya bangun pada hari senin hingga jumat, beranjak dan bersiap berangkat, saya bertanya kepada diri sendiri, untuk apa semua ini? Bangun otomatis pukul 4.00 dinihari, mandi otomatis setelah berguling-guling 50 kali dan menggerakkan otot tangan sekedarnya, menyiapkan blouse dan blazer, memakan semangkuk bubur gandum dan segelas teh pahit hangat, lalu kemudian berangkat, menuju ke lokasi kerja. untuk apa?
yang lalu, hati dan otak serempak menjawab :
untuk menjamin, bahwa kelak, apa yang sedang saya bangun, akan cukup membanggakan untuk kedua orang tua, saudara dan suami serta anak-anak saya kelak, tempat dimana nyawa saya berteduh, manusia-manusia yang kelak jadi rumah saya, orang-orang tujuan saya pulang, beberapa jiwa yang jadi pemompa nyawa saya untuk bertahan.
jadi, kelak, lelaki yang selamanya akan berada disisiku, bukanlah lagi orang yang menyodorkan pertanyaan yang menyayat hati serta membungkam bibir :
pilih aku atau pekerjaanmu ?
sudah pasti kamu yang akan jadi pertama.
tahu kan kamu, aku sedang membangun? jangan lagi memberikanku pertanyaan konyol itu lagi.
terkadang ada kesenangan yang ingin dibagi
sesekali kesedihan ingin dimengerti
suatu saat ada pula resah yang ingin berkisah
maka itulah aku menulis di sini
jarang bertemu tapi sadar dua-duanya ada.
bergantian saling merindukan
lalu saling meniadakan
karena hujan tak kan pernah ada ketika matahari menyengat panas
dan matahari tak kan muncul ketika hujan sedang lebat-lebatnya
matahari merindukan hujan
ia bersinar dan menyengat panas sehingga air hilang menjadi uap
kemudian hujan datang
matahari menghilang
tak pernah bertemu
rectoverso.
namun,
suatu waktu,
adakalanya matahari dan hujan bertemu
sesaat namun berarti.
di kala hujan panas.
Pagi ini. Pucuk-pucuk akasia meliuk-liuk diterpa angin.
Daun-daun dan rantingnya merindukan hujan.
Hujan yang telah berabad-abad setia menunggu munculnya pelangi.
Rerumputan dan kuntum-kuntum bunga liar menanti saat untuk bersanding dengan langit biru.
Selalu ada sebuah alasan untuk menanti dan menunggu.
Seperti akasia, langit dan bunga-bunga liar itu.
Maka hujan berkata kepada pelangi,
'I adore you, i have been waiting you and i'm glad to see you..'
-Tulisan ini dipindahin dari notes facebook-
Hi, just, hi...
I don't really have a thing to talk to, but just a hi. Just continue to live my life. Btw, here is my random mind.
problem hidup memang mampu merubah karakter manusia….
entahlah akupun tidak tau dimana ujung benang itu berada sekarang. Yang jelas untuk meluruskan benang kusut itu perlu usaha yang sangat keras, kesungguhan dan kerendahan hati yang luar biasa serta mujizat tangan Tuhan
terutama kemauan hati.
berapa banyak orang yang akan merasa kehilangan ketika saya meninggal?
apakah jumlahnya lebih banyak daripada orang yang tidak merasakan perbedaan sama sekali?
pertanyaan itu sering muncul di benak saya. ketika saya meninggal saya ingin diingat sebagai orang yang baik hati, mampu memaafkan kesalahan...seberat apapun itu, sesering apapun itu, memberi nilai tambah dalam hidup orang lain, memberi semangat, mencerahkan hari, dan sebagai saksi Bapa di sorga. i'm not saying i'm flawless. i have tons of mistakes. i have my dark side in which i'm ashamed of. tapi saya ingin jadi pribadi yang baik.
dan ini susah banget dilakuin. banget.
Sedang berpikir, apa sesungguhnya yang membuat manusia merasa "Mati Kutu" ? Kalau saya, apa ya...?
Hm, mungkin kalau sedang terjebak dengan situasi yang menjengkelkan dan saya tidak siap hingga mengalami kegagapan situasi. Trus ga bisa mikir, ga bisa ngapa-ngapain. Buntu. Seperti itulah kira-kira.
Mati kutu itu beda antar orang per orang. Bagimu, baginya, bagi mereka mungkin beda. Bagimu mungkin saat sedang ingin menghindari si X, tiba-tiba bertemu dan tak bisa menghindar lagi. Baginya, mungkin saat harus membayar mahal sebuah barang di depan seorang cewek, padahal biasanya selalu menghindari barang mahal. Bagi mereka, mungkin saat sedang tak ingin pergi tapi terjebak situasi harus pergi atau sebaliknya.
Meski berbeda-beda rasanya "Mati Kutu" itu memiliki endapan yang sama. Kegagapan. rasa keok. Persis seperti seekor kutu yang mati tergeletak. Terdiam, tak bisa berbuat apa-apa. Mungkin itulah kenapa rasa itu disebut "Mati Kutu".
Mati kutu itu saya rasakan saat ini. Sedang kehilangan ide menulis padahal banyak yang mengendap di kepala. Hanya bisa diam. memandang layar laptop dan ponsel dengan pandangan aneh. Padahal kau, dia dan mereka telah mengaduk-aduk rasa lewat FB, kicauan twitter, entah media sosial mana lagi. Jengah, lelah. Mungkin itulah jawabannya. Semoga Mati Kutu ini segera pergi.
Palangka Raya, 24-11-2013
aku ini berlari
mencari kekasihku
di awan
diantara bulir hujan
juga mendungnya bintang
hei itu dia!
persis di atas kepala
kekasihku sedang merekah
ia mengenakan kemeja kotak-kotak kesukaanku!
siapakah itu di sampingnya
seorang perempuan jelita
berbaju merah!
lalu aku patah
hancur bagai remah
--- tenggelam
niat belajar berenang tenggelam bersama asa
nb : puisi ini hanya fiksi, jangan diambil hati. cukup dinikmati








































