tadi malam saya mikirin sesuatu. ini efek temen saya berbincang tentang cinta, suku dan agama. saya jadi bertanya :
sejauh mana peran etnis, budaya dan agama dalam kehidupan percintaan?
etnis -
etnis mengacu pada suku. contohlah si Bonar, lelaki ganteng beretnis batak mencintai si Meimei, wanita tionghoa yang lembut.
budaya -
budaya
mengacu pada kebiasaan dari komunitas. contohlah si Bonar memiliki
budaya batak yang ribet mencintai si Meimei yang memiliki budaya
tionghoa yang juga kompleks.
agama -
agama mengacu pada keyakinan seorang individu. contohlah si Bonar pengikut Yesus mencintai si Meimei penganut ajaran Budha.
Akan ada begitu celah gesekan. bohong kalo ada yang bilang cinta itu sederhana. itu hanya cinta monyet yang ada di sinetron.
perbedaan
etnis dan budaya masih bisa ditolerir dalam batas normal, namun
perbedaan keyakinan? bisakah Tuhan mu dan Tuhan ku bersatu? bisakah
cara mu menyembahNya bisa diterima oleh pola penyembahan ku?
katakan
lah mereka tetap bersama. menikah di negara yang mengizinkan pernikahan
beda keyakinan. kemudian mereka memiliki anak. cakep dan pintar, persis
seperti ibu dan ayahnya. lalu, si anak bertanya, saya harus ikut ajaran
siapa? Tuhan saya siapa? Siapa Tuhan itu?
bingung kan lo.
Kata
temen saya sih, "gampang mi, sekarang zaman udah canggih, ga lagi sulit
mendidik anak. Dia (anak itu) yang harusnya memilih keyakinannya"
benarkah segampang itu?
benarkah?
menurut saya tidak segampang itu.
keyakinan
akan Tuhan, menurut saya adalah pondasi dalam setiap aspek kehidupan.
Ia menopang pilar-pilar kehidupan. Pilar kebahagiaan, pilar pengetahuan,
atau bahkan pilar karier. Pondasi yang tidak kokoh akan meruntuhkan
semuanya.
benarkah segampang itu, teman?
atau pemikiran saya yang terlalu rumit?
entahlah, saya hanya bertanya saja. karena dengan mengajukan pertanyaan saya sering menemukan pengetahuan yang tersembunyi.
Posting asli ditulis di facebook, August 22, 2011 at 2:23pm
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
