Sometimes it takes sadness to know happiness, noise to appreciate silence and absence to value presence - anonim
Hari ini, hari Senin, Minggu Keempat di Bulan Kesembilan, Tahun Dua Ribu Empat Belas setelah Masehi.
Senin, 22 September 2014.
Aku datang bulan. Hari pertama di bulan ini. Tandanya aku belum akan punya anak untuk sembilan bulan kedepan. Ya iya, Produsen Benih-nya aja belum nemu. Btw, kenapa Menstruasi diterjemahin menjadi Datang Bulan? Apa hubungannya Bulan yang indah itu dengan sel telur yang lebur menjadi darah di tiap bulan? Apakah ketika jarak Bulan mendekat dengan Bumi berwarna merah seperti darah? Kalo cowo siklus bulanan mimpi basah, ya karena mereka mimpi lalu basah. Kalo Datang Bulan? Ah. Pusing. Random. Skip.
Seperti biasa, aku bangun pagi dengan ritual guling ke kanan, guling ke kiri kadang nungging kadang ngga. Yes, kadang. Aku khawatir bokongku tepos alias menipis karena kebanyakan duduk dan tidur, jadi harus diberi ruang udara walau sesaat. HAHA. Setelah bangun, kuterus mandi, jepit rambut pake hair-cap daaan merasa ga enak! Ya, ga enak! Rambut hitam yang tebal jadi tipis. Hari Sabtu, aku ke Salon, konon kata Maya-temenku di kota ini, Salon itu adalah salon paling baguuuuuuuuuuuussssss di kota ini. Pft, Aku merasa menyesal, rambutku salah potong. Agak pendek dan tipis. Habis mandi, sisiran, rambut rapi, hati campur aduk.
Pergi ke kantor, tidak lupa membeli bubur bandung langganan. Kalo kerja tanpa sarapan, bisa-bisa otakku ga bisa mikir. Otak dan lambung kompak banget soalnya. Yang jual udah kayak mak angkat aku nih. Tinggal duduk, dikasi bubur bandung tanpa telor rebus dan teh manis hangat dengan gula sedikit saja. Apes, aku tumpahin cabe hampir satu sendok makan di atas bubur! Udah disingkirkan tuh cabe yang tumpah, tapi tetep pedes. Mules dah hampir dua jam. Tauk deh mules karena datang bulan apa karena cabe. Oh. Mak.
Sampe kantor. Dapet text dari rekanku, Nina. Dia gak masuk kerja. Ijin demi anaknya. Pengasuhnya ga masuk. Suaminya kerja. Adik kecil yang lucu itu ga ada yang temenin. Sedihnya kamu dek. Ya, sepi deh kantor, ga apa-apa deh, demi adik kecil. Tante Mimi yang imut doakan mamamu dan kamu sehat selalu ya adik kecil. Amin
Pegang senjata alias Kompi Similikiti Weleh-weleh dan kibor ngebor dengan slow motion. Serasa banyak kuman bertebaran, berhati-hati. Maafkan sikap sok-perfeksionis ku ya Kompi. Seminggu menjelang akhir bulan. Bulan September. Bagi kalian mungkin
adalah bulan biasa, namun bagi kalangan Perbankan atau
institusi/lembaga/korporasi yang terdaftar di Bursa Efek, ini adalah
salah satu bulan keramat. Tentu saja bulan keramat itu bukan hanya bulan
September, dalam satu tahun ada empat kali bulan keramat. Maret, Juni,
September, Desember. Triwulanan, Semesteran, whatever. Itu artinya,
target yang ditetapkan harus tercapai. Target? Yoi. Tujuan yang harus diraih. Rapor perusahaan akan diekspos di media resmi. Cerminan penilaian, bonus tahunan atau bahkan kenaikan gaji untuk periode mendatang. Sigh.
Harusnya bulan ini adalah bulan yang agak gembira. Yoi men. Aku kerjain Nota Analisa Kampret eh Kredit, kebut untuk dua perusahaan tujuan take over dan pembelian kapal. Switch otak kiri kanan depan belakang (ada otak depan dan otak belakang ga? hha). Yes, Thanks bigboss. Diputus dengan tenggat waktu yang lumayan longgar dari akhir bulan (Diputus-ini istilah jika pengajuan nota analisa disetujui). Jadi, kalo dalam dunia percintaan kata 'diputus' bikin hati kamu-kamu pada pedih, sebaliknya kalo dalam dunia relationshit manager, kata 'diputus' itu bikin lo senyum. Senyum doang sih. Ga usah pake seneng. Senengnya kalo tuh uang kredit, dibalikin tepat waktu, tanpa nunggak dan perekonomian di daerah lo kasi kredit berkembang. Sekali lagi, ga usah pake seneng kalo kredit diputus! Sebaiknya senyum aja plus doa di tiap tanda-tangan yang lo tuliskan. Ingat nasehat Mami Mimi ini ya! Awas kalo macet. Amit-amit, bisa berabe pokoknya!
Dapet text dari salah seorang Birokrat lumayan songong bermarga Pasar Seribu. Urusan pencairan dana simpanan. Shit. Yes. Shit banget dah. Urusan ini udah lama banget, dimulai dari pendekatan di tahun 2013. Pendekatan dan negosiasi yang panjang. Yeah. Bagi aku pribadi sih ga sia-sia, men. Negosiasi skill ku meningkat lumayan pesat, yes i do. Urusan ini aku dikit banget dibantu ama Mr. Thankfull, dia mah selalu bilang kalo di urusan Pak Bli, target nya Pak Bli. Bahkan itung-itungan suvenir yang aku pake untuk dapetin dana Birokrat.
Dari minggu kemaren, aku nego agar ga cair. Okesip. Rayuan pulau kelapa berhasil. Namun hari ini rayuan ga mempan. Harus cairin deposito 20 milyar rupiah, ke B*I. Uh, nyebelin. Birokrat oportunis. Udah dikasi produk Apple dua buah, ga tepatin janji. Cuma dua bulan doang. Balik modal aja kagak. Alasannya buat bayar proyek dan gaji. Bohong! Jelas-jelas aku dan Andrew-temenku anak kantor cabang, papasan dengan anak Bank lain yang datang kunjungan sebelum kami. Oportunis, mau hadiah sana-sini. Pindah sana-sini. Males banget dah ama Bapak Pasar Seribu.
Aku basa-basi kunjungan ama Kepala Badan, sebut saja Bapak Four, jelasin kalo dana yang disimpan di bank, kemudian diputer untuk masyarakat kota dia juga, dalam bentuk kredit baik kredit untuk tujuan konsumsi atau produktif. Semua itu atas dasar spirit membangun negeri. Walau aku tau, penjelasan dan obrolan itu ga bakal berpengaruh dengan pemindahan dana, yang penting aku sampaikan tujuan korporasi dalam bisnis perbankan.
Makan siang aku juga agak kesel ama Alam. Banyak tanya ini itu. Aku sebenernya malas ngomong panjang lebar. Si Rendy juga jutekin aku gara-gara aku minta kartu e-money disaat dia sibuk. Ah, tapi aku biarin aja deh mereka begitu. Salah satu temen-temenku yang lucu. Cuma aku aja yang lemes ga semangat hari ini. Pengen cerita lucu-lucuan ama Tian, dia sibuk banget kayaknya hari ini. Hhaa.
Hari ini agak menyebalkan. Hari pertama datang bulan. Bad hair day. Kredit akan on book dua klien tapi kehilangan funding 20 milyar, B*I hit me back, plus birokrat oportunis. Negosiasiku cuma bertahan seminggu. Bosku duduk manis doang, aku pun malas basa basi lapor. Palingan dikasi wejangan nada negatif (as usuall) dan disuruh lapor ke Pak Bli aja. Feel bad, seminggu lagi EOM. Ga enak sama Bigboss nun jauh di kota seberang, ga enak sama Kacab-yang juga temenku. Dana mereka turun deh. Negosiatornya ga lihai. Ah, aku yang salah.
Sore menjelang, pulang jam setengah 5 teng, Go !
Mau bobok dulu tapi ga bisa bobok. Lalu lampiaskan sejarah hari ini di blog.
I'm not good today, just trying to smile along day at office hahaha
Tujuan nulis ini biar ga lupa pelajaran hidup hari ini. tar kapan-kapan aku baca ini palingan senyum-senyum sendiri.
Datang bulan paling lama seminggu, udah biasa.
Rambut salah potong, kata Mba Gia tar juga tumbuh lagi, kata Galuh dirapiin lagi aja.
Cabe yang tumpah di bubur, besok-besok mesti hati-hati.
Dana pindah, ya mari tingkatkan kualitas negosiasi dan banyak-banyak temenan ama birokrat, kasi pengaruh baik.
It is just bad day, not bad life, right? Yes and amen.
Besok kita mulai lagi, dari nol ya. Cheerss
Good night.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
