Hi, just, hi...
I don't really have a thing to talk to, but just a hi. Just continue to live my life. Btw, here is my random mind.
problem hidup memang mampu merubah karakter manusia….
entahlah akupun tidak tau dimana ujung benang itu berada sekarang. Yang jelas untuk meluruskan benang kusut itu perlu usaha yang sangat keras, kesungguhan dan kerendahan hati yang luar biasa serta mujizat tangan Tuhan
terutama kemauan hati.
berapa banyak orang yang akan merasa kehilangan ketika saya meninggal?
apakah jumlahnya lebih banyak daripada orang yang tidak merasakan perbedaan sama sekali?
pertanyaan itu sering muncul di benak saya. ketika saya meninggal saya ingin diingat sebagai orang yang baik hati, mampu memaafkan kesalahan...seberat apapun itu, sesering apapun itu, memberi nilai tambah dalam hidup orang lain, memberi semangat, mencerahkan hari, dan sebagai saksi Bapa di sorga. i'm not saying i'm flawless. i have tons of mistakes. i have my dark side in which i'm ashamed of. tapi saya ingin jadi pribadi yang baik.
dan ini susah banget dilakuin. banget.
Sedang berpikir, apa sesungguhnya yang membuat manusia merasa "Mati Kutu" ? Kalau saya, apa ya...?
Hm, mungkin kalau sedang terjebak dengan situasi yang menjengkelkan dan saya tidak siap hingga mengalami kegagapan situasi. Trus ga bisa mikir, ga bisa ngapa-ngapain. Buntu. Seperti itulah kira-kira.
Mati kutu itu beda antar orang per orang. Bagimu, baginya, bagi mereka mungkin beda. Bagimu mungkin saat sedang ingin menghindari si X, tiba-tiba bertemu dan tak bisa menghindar lagi. Baginya, mungkin saat harus membayar mahal sebuah barang di depan seorang cewek, padahal biasanya selalu menghindari barang mahal. Bagi mereka, mungkin saat sedang tak ingin pergi tapi terjebak situasi harus pergi atau sebaliknya.
Meski berbeda-beda rasanya "Mati Kutu" itu memiliki endapan yang sama. Kegagapan. rasa keok. Persis seperti seekor kutu yang mati tergeletak. Terdiam, tak bisa berbuat apa-apa. Mungkin itulah kenapa rasa itu disebut "Mati Kutu".
Mati kutu itu saya rasakan saat ini. Sedang kehilangan ide menulis padahal banyak yang mengendap di kepala. Hanya bisa diam. memandang layar laptop dan ponsel dengan pandangan aneh. Padahal kau, dia dan mereka telah mengaduk-aduk rasa lewat FB, kicauan twitter, entah media sosial mana lagi. Jengah, lelah. Mungkin itulah jawabannya. Semoga Mati Kutu ini segera pergi.
Palangka Raya, 24-11-2013
