Hola! Helo!
Pagi ini kota Palangka Raya diselimuti kabut tebal. Bukan baru kali ini saja, namun kali ini jarak pandang kurang lebih 100-200 meter. Mata sipitku yang minus hampir 4 ini semakin ga bisa melihat dengan jelas. Alamak. Pedih. Kuhindari memakai contact lens pada saat-saat seperti ini.
Banyak orang menyalahkan orang lain yang membakar lahan. Tapi, pikirku, the root of this smoke plague is The Banker! Bah! Yes, we are. Siapa lagi yang dukung perusahaan sawit untuk buka lahan? Emang mereka punya modal sendiri? Sapa dong yang kasi modal? Bank proyeksikan pengembalian dana yang telah diberikan melalui perkiraan cashflow yang akan dilakukan dimasa mendatang hingga kredit lunas.
Kalo sekarang hutan habis karena kegiatan landclearing, tumbuhan sedikit sekali sehingga tidak cukup menyerap karbondioksida, itu karena siapa? Pengusaha? Ya, tidak. Karena Perbankan.
Jika sekarang di Nota Analisa Kredit tertuang hitung-hitungan Proyeksi Cashflow, maka nanti jika aku jadi bigboss akan aku tambah Proyeksi Bencana atas Pemberian Kredit. Tar aku tolak semua kredit yang ga bikin proyeksi bencana. Mimpi! Abis itu aku pasti dipecat deh. Hhaa
Semoga Kota Palangka Raya yang kutinggali saat ini semakin diberkati Tuhan, dan aku berdoa agar para pemimpin pemegang kewenangan memutus kredit semakin diberi hikmat kebijaksanaan serta hari ini hujan turun dengan deras. Amin!
Have a good day!

